Pages

Kamis, 30 Oktober 2014

FILSAFAT
Dalam bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata, yaitu Philos dan Sophia.
Philos biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang atau cinta.
Sophia diartikan sebagai kebijaksanaan atau kearifan.

Dengan demikian dapat dikatakan “Filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan.

Menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakekat sesuatu.

Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekatnya, fungsinya, cirri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.

Sumber:
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Bumi Aksara,  2008, h. 2




Teknik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z

TEORI X
     Pada tahun 1960, Douglas MC Gregor mengidentifikasikan dua sudut pandang tentang manajemen, yang dianut dalam tingkatan manajemen. Dua sudut pandang itu, disebut dengan Teori X dan juga Teori Y.
Teori X memandang manusia sebagai pemalas, yang lebih suka diberi arahan secara detail tentang apa yang harus dilakukan, menghindari tanggung jawab serta memilki sedikit ambisi. Teori ini mengungkapkan bahwa manusia menginginkan rasa aman (security) dan mengharapkan imbalan serta balas jasa yang tinggi. Dari sini bisa disimpulkan pada Teori X “bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya (fisik dan keamanan)”.

    Manajer yang memandang karyawannya seperti itu berkeyakinan bahwa, supaya pekerjaan bisa tuntas, karyawan harus dikontrol, dipaksa, diancam dengan disiplin dan dihukum.

    Teori ini berkembang dari pendekatan “ Scientific Management”, yang dikembangkan oleh Frederick Taylor. Menurut Taylor (1974), sebagian besar orang menganggap kerja pada dasarnya tidak menyenangkan. Oleh karena itu, uang yang akan mereka peroleh adalah motivasi utama karyawan berkenan menghabiskan waktunya berjam-jam untuk bekerja.

Asumsi – Asumsi pada Teori X:


  1. Hanya membutuhkan lotivasi fisiologis dan keamanan saja.
  2. Orang tidak suka bekerja, sehingga para manajer harus mengontrol, mengarahkan, memaksa dan mengancam karyawan supaya mereka bekerja ke arah tujuan-tujuan organisasi.
  3. Orang lebih suka diarahkan, untuk menghindari tanggung jawab, untuk memperoleh rasa aman. Mereka hanya mempunyai sedikit ambisi.
  4. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mncapai tujuan organisasi.
Kelebihan Teori X:

  • Karyawan bekerja untuk memaksimalkan kebutuhan pribadi
Kelemahan Teori X:

  • Karyawan malas
  • Berperasaan irasional
  • Tidak mampu mengendalikan diri dan disiplin
Tipe kepemimpinan pada Teori X ini adalah otoriter, sedangkan gaya kepemimpinannya berorientasi pada prestasi kerja.
    Sebagai contoh teori X ini adalah sebuah fenomena pemikiran yang terjadi pada masyarakat pribumi di sekitar pertambangan batubara di Kalimantan. Mereka mempunyai etos kerja yang kurang bagus karena latar belakang kekayaan alam yang mereka miliki. Dalam pandangan mereka tidak perlu bersusah payah dalam bekerja, karena bumi yang mereka pijak sudah menyediakan uang bagi mereka. Apabila mereka butuh uang lebih, mereka tinggal menggali tanah di halaman rumah mereka yang kaya akan batubara. Mereka bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Istilahnya kerja hari ini untuk makan hari ini. Dalam mereka bekerja pun mereka memilki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan, namun mengingink`n balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi karena mahalnya biaya hidup di sana.

TEORI Y


     Teori Y memandang karyawan dari sudut pandang yang berbeda. Teori ini beranggapan bahwa upaya fisik dan mental sebagai bagian yang penting dan alamiah (natural) dari aktivitas manusia. Teori Y memandang, orang akan melakukan control diri (self control) dan mengarahkan dirinya sendiri (self direction), jika mereka berkomitmen pada tujuan–tujuan pekerjaan mereka.

     Bagi para pimpinan ataupun manajer yang menerima Teori Y, pengembangan dan pemeliharaan lingkungan kerja yang memuaskan adalah sangat penting untuk meraih kinerja karyawan yang maksimal. Teori Y muncul dengan di latar belakangi karya Elton Mayo, dkk (1953) yang sering disebut dengan “ Pendekatan Hubungan Manusia” (Human Relation Approach). Pendekatan ini menekankan akan pentingnya peran proses social di tempat kerja.
Beliau berpendapat bahwa karyawan ingin merasa berguna dan penting serta menjadi bagian dari sebuah kelompok sosial. Selain itu imbalan yang bersifat non finansial sering lebih penting daripada uang dalam memotivasi karyawan untuk jangka panjang.

     Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa pada Teori Y “bahwa manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan tingkat tingginya (harga diri dan aktualiasasi diri).

Asumsi-asumsi pada Teori Y:
  1. Pekerjaan itu pada hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan kepada seseorang. Keduanya bekerja dan bermain merupakan aktivitas-aktivitas fisik dan mental. Sehingga di antara keduanya tidak ada perbedaan, jika keadaan sama-sama menyenangkan.
  2. Kemampuan untuk berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas didistribusikan kepada seluruh karyawan.
  3. Orang secara internal termotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang sudah menjadi bagian dari komitmen mereka.
  4. Orang berkomitmen terhadap tujuan-tujuan sampai pada tahap dimana mereka menerima imbalan personal ketika mereka mencapai tujuan-tujuan tersebut.
  5. Orang akan mencari dan menerima tanggung jawab di bawah kondisi-kondisi yang menguntungkan (favorable).
  6. Orang memilki kapasitas untuk menjadi inovatif dalam memecahkan masalah-masalah dalam organisasi.
  7. Orang itu potensial, namun di bawah sebagian besar kondisi perusahaan, potensi mereka menjadi tidak termanfaatkan.
    Menurut Teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerjasama dan ketertarikan pada keputusan. Singkatnya, dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin tercapainya sasaran.
Jenis motivasi yang diterapkan adalah motivasi positif, sedangkan tipe kepemimpinannya adalah kepemimpinan partisipatif.

Kelebihan Teori Y:


  • Pekerja menunjukkan kemampuan mengatur diri
  • Tanggung jawab
  • Inisiatif tinggi
  • Pekerja akan lebih memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan
Kelemahan Teori Y:

  • Apresiasi diri akan terhambat berkembang karena karyawan tidak selalu menuntut pada perusahaan
    Teori ini beranggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia. Contohnya yang terjadi pada masyarakat perkotaan di Pulau Jawa, khususnya yang bekerja di perusahaan go public. Mayoritas mereka mempunyai etos kerja yang tinggi karena ketatnya persaingan di dunia kerja. Mereka akan bekerja dengan sebaik baiknya, untuk memperoleh kehidupan yang layak dalam persaingan yang semakin kompleks. Mereka berasumsi jikalau mereka tidak bekerja dengan baik di perusahaan yang mereka tempati, di luar mereka banyak orang mengantri untuk menempati posisi mereka saat ini. Sehingga mereka menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari hidup yang harus mereka jalani dan berbuat semaksimal mungkin untuk diri mereka.

    Contoh lain penerapan teori Y ini terjadi pada para reporter di media cetak, copywriter di perusahaan periklanan, atau broadcaster di media televisi. Pada teori Y, kegairahan dan tantangan dalam pekerjaan, semangat yang mereka bagi dengan rekan kerjanya serta tentang standart dan hasrat untuk melakukan pekerjaan secara baik. Semua itu dipandang sebagai pendorong utama yang memotivasi para karyawan. Dalam teori ini, kemenangan atas sebuah penghargaan atau mendapatkan penugasan yang dipilihnya lebih berarti daripada kenaikan gaji.

TEORI Z


    Teori Z adalah sebuah pendekatan manajemen berdasarkan kombinasi dari manajemen Amerika dan manajemen Jepang. Filosofi manajemen yang ditandai antara lain, hubungan jangka panjanng pekerjaan tetap, pengambilan keputusan secara konsensus dan tanggung jawab individu dalam konteks kelompok serta tinjauan kinerja secara regular dan tegas, yang memberikan umpan balik yang dituntut sebagian besar karyawan. Teori Z lebih menekankan pada peran dan posisi karyawan dalam perusahaan yang dapat membuat para pekerja menjadi nyaman, betah, senang dan merasa menjadi bagian penting dalam perusahaan. Dengan demikian, maka karyawan akan bekerja dengan lebih efektif dan efisien dalam melakukan pekerjannya. Teori ini menganggap rasa aman (security) secara khusus mempunyai arti penting.
    Teori Z ini juga menekankan perkembangan hubungan kepercayaan (trust relationship) antara pemimpin dan yang dipimpin. Penekanan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa motivasi orang yang pertama bersifat internal. Namun perasaan-perasaan itu harus diperktat oleh komitmen yang jelas terhadap karyawan dari pihak pimpinan.
Teori Z melihat pengambilan keputusan kolektif dan tanggung jawab kelompok memberikan dukungan sosial yang diperlukan bagi tercapainya kinerja puncak. Hal tersebut terjadi lewat penciptaan rasa aman yang memungkinkkan para karyawan menyampaikan ide-ide baru tanpa takut ditolak ataupun takut gagal.

    Pada intinya Teori Z ini menitik beratkan pada sikap dan tanggung jawab para karyawan suatu organisasi.

Asumsi-asumsi pada Teori Z:


  1. Tangung jawab diberikan secara perorangan dan mengakui prestasi individu.
  2. Karena tanggung jawab bersifat individu, maka karyawan bebas bekerja menggunakan keterampilan yang dimilikinya.
  3. Karyawan dipekerjakan seumur hidup, agar terjadi rasa aman dan loyalitas terhadap perusahaan.
  4. Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara consensus atau secara terbuka. Walaupun akan memakan waktu yang lebih lama namun tingkat keberhasilan pengimplementasian hasil keputusan yang didapat akan lebih tinggi karena mendapat dukungan dari mayoritas karyawan.
  5. Promosi dilakukan perlahan-lahan dari bawah dan proses evaluasi prestasi d`n promosi dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah dengan para karyawan.
Kelebihan Teori Z:

  • Upaya perusahaan untuk mengikat karyawan dengan loyalitas tanpa batas, sehingga karyawan bekerja dalam sikap yang penuh integritas untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Kelemahan Teori Z:
  • Kemampuan perusahaan menurun dalam komitmennya untuk tetap mempertahankan karyawan. Terlebih pada saat terjadi ketidakpastian ekonomi yang merusak sector financial dan bisnis perusahaan.
  • Membutuhkan banyak pengorbanan, karena sifatnya yang holistic d`n kurang sederhana.
    Pada penerapan teori Z, perusahaan menganggap karyawan adalah keluarga. Sehingga mereka harus diperlakukan juga layaknya anggota keluarga mereka sendiri. Contoh penerapan teori ini bisa dilihat pada para pekerja seni, khususnya pada profesi sutradara. Mereka bisa bekerja selama apapun mereka mau dan mereka juga memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi imajinasi dan kreativitas yang mereka miliki. Tetapi di lain sisi mereka juga mempunyai tanggung jawab secara personal kepada PH (Production House) yang menaungi mereka. Keputusan untuk pengerjaan proyek film pun juga diambil berdasarkan keputusan bersama beberapa pihak yang tergabung dalam PH tersebut, meliputi investor, produser dll.
    Contoh lainnya penerapan teori Z adalah perusaahaan computer “Intel”. Dalam pekerjaan sehari-hari, mulai dari penjualan, pengawasan mutu dan lain sebagainya, Intel mempunyai beberapa dewan. Lembaga bersama ini tidak hanya terdiri dari para speialisasi computer, mereka juga turut serta dalam memutuskan dan menegakkan standart. Semua peserta dalam dewan tersebut diperlakukan sama (pekerja baru boleh mengadu argument dengan eksekutif senior). Hal ini bertolak dari pandangan bahwa seorang senior tidak dapat beperilaku sok tahu bentuk silicon atau teknologi computer yang baru di masa depan.

Rujukan :

http://www.tempo.co/read/caping/1981/03/21/518/Teori-z,
http://niladwipsikologi.wordpress.com/2010/12/24/teori-teori-kepemimpinan-partisipatif/,
http://chachaibecha-chacha.blogspot.com/2011/03/teori-xyz-dalam-manajement-umum.html

GAYA KEPEMIMPINAN/ LEADERSHIP STYLE

Pemimpin” adalah seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang diinginkan sesuai yang diinginkan (Prof. Dr. M.H. Matondang, SE, MA, Kepemimpinan, Budaya Organisasi dan Manajemen Stratejik, hal.  4).  Dengan demikian, peranan pemimpin sangat dominan bahkan determinan dalam mencapai sasaran pokok organisasi dan mewujudkan visi. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus: (1) mampu membuat keputusan yang cepat, tepat di antara kepentingan yang berbeda-beda, (2) visioner, mampu membuat keputusan dan mampu mengantisipasi gejolak perubahan strategis masa depan, dan (3) mampu mengambil keputusan yang bermutu, karena mutu seorang pemimpin dapat dilihat dari mutu keputusan yang diambilnya. Kepemimpinan sangatlah penting karena pemimpin yang paling bertanggung jawab atas efektivitas organisasi, dan pemimpin sebagai jangkar dari organisasi, serta pemimpin adalah bentuk paling nyata dari integritas organisasi. Tugas utama seorang pemimpin adalah bukan mengembangkan organisasi, namun mengkreasikan nilai bagi organisasi tersebut dan megembangkan kreasi nilai tersebut (Warren Bennis, On Becoming A Leader, Ontario: Addison-Wesley, 1994, h.5).
Seorang Pemimpin harus memahami 6 “Leadership Style” agar kepempinan dia efektif yakni:
1.  Coercive Style, tipe ini suka nyuruh dan kurang direkomendasikan karena climate effectnya negative dan akan mematikan inovasi dan kreasi orang. Gaya pas untuk organisasi sedang menghadapi krisis, business habit yang buruk, dan problem people.
2. Authoritative Style, gaya ini cocok untuk any business situation dan most recommended, climatenya strongly positive, tipe yang mobilize people toward a vision. Dia mencoba memberikan pemahaman yang kuat ke karyawan bahwa antara hubungan pekerjaaan yang dia lakukan dengan visi perusahaan adalah selaras.
3.  Affiliate Style, tipe ini berusaha membangun ikatan yang kuat antara dirinya dengan karyawan dan berupaya menciptakan sense of belonging karyawan terhadap perusahaan dan akan membangun loyalty, menciptakan suasana trust one another, dan digunakan untuk motivate people during stressful moment. Leader harus memiliki Emotional Intelligent dalam Communication dan Building Relationship yang tinggi sehingga climate yang terbentuk positive.
4.  Democratic Style, tipe ini mau meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain dan berusaha untuk menggali pendapat dan masukan dari karyawan serta create concensous through participant. Kekurangannya dapat meningkatkan conflict serta pemimpinnya harus kuat dalam communication, team ledership, collaboration dan climate yang terbentuk positive.
5.  Pacesetting Style, gaya ini adalah tipe idealis/perfectionis dan menganggap orang lain mampu seperti dirinya. Bisa cocok ketika mengharapkan quick result dan karyawan harus highly motivated dan sangat kompeten dan climate yang terbentuk negative.
6.  Coaching Style, tujuannya develop people for future dan berusaha membantu dan membimbing karyawan untuk perbaikan serta untuk tujuan jangka panjang. Gaya ini work when employee already aware of their weakness and would like to improve. Problem dari style ini adalah menyita waktu dan climate yang terbentuk positive.
Dari ulasan diatas, dapat diambil beberapa leadership style yang memberikan dampak (climate) positif yaitu: Authoritative, Affiliative, Democratic dan Coaching. Kita tidak bisa hanya memanfaatkan satu style untuk menciptakan kepemimpinan yang efektif. Perlu kombinasi dari beberapa style tersebut dan akan lebih bagus lagi bisa menguasai semuanya. Kalau pemimpni tersebut dapat menguasai 6 gaya tersebut maka Dia sudah mencapai Ilmu Tertinggi dari Strategic Leadership.
Dan yang terpenting lagi dari ulasan di atas,  bahwa apabila anda seorang "Pemimpin", anda akan tahu style anda sendiri atau bagi seorang bawahan/ staff dapat mengetahui style dari pemimpinya..
KESIMPULAN

FILSAFAT adalah cinta kepada kebijaksanaan, menjadi bijaksana berusaha
mendalami hakekat tertentu. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekatnya, fungsinya, ciri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.
Dalam Filsafat mempunyai teori X,Y, dan Z
Teori X memandang manusia sebagai pemalas, yang lebih suka diberi arahan secara detail tentang apa yang harus dilakukan, menghindari tanggung jawab serta memilki sedikit ambisi.
Teori Y memandang, orang akan melakukan control diri (self control) dan mengarahkan dirinya sendiri (self direction), jika mereka berkomitmen pada tujuan–tujuan pekerjaan mereka.
Teori Z ini juga menekankan perkembangan hubungan kepercayaan (trust relationship) antara pemimpin dan yang dipimpin.

Teori-Teori di atas sangat berguna bagi seorang pemimpin atau Leadership.


Kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat orang mengerjakan hal yang tidak mereka sukai, dan menyukainya.
 Kepemimpinan berarti membuat orang menyukai hal-hal yang tidak menyenangkan.
Kepemimpinan adalah membuktikan yang tidak dapat dibuktikan.
Kepemimpinan adalah suatu kualitas, suatu budaya, suatu peran, suatu pola pikir, dan serangkaian tindakan.

.Di dalam Filsafat Administrasi Negara mengajarkan bahwa kita harus menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana. Dimana sorang pemimpin harus bisa menjadi contoh atau panutan yang baik terhadap bawahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar